Rabu, 18 Agustus 2010

Kisah Sukses Seorang Wirausahawan Keramik, FX Widiyanto

Profile F.Widayanto

F. Widayanto adalah seorang seniman keramik terkenal dari Indonesia. Awalnya keinginan untuk menekuni dunia keramik, bertentangan dengan keinginan kedua orang tuanya. Pada tahun 1983 F.Widayanto memulai awalnya bisnisnya. Dengan kegigihan beliau tetap menajalani mimpinya tersebut sampai akhirnya beliau berhasil menjadi seorang entrepreneur pada bidang seni  keramik ini. Bermula dengan berkualiah di ITB , saat ini Beliau sudah memiliki beberapa outlet atau showroom di beberapa daerah Jabodetabek. Kunci suksesnya adalah bekerja pada bidang usaha yang disukainya. Walaupun usahanya sudah dijadikan semacam bisnis tetapi hal yang paling ia perhatikan adalah design dan product. Dan saat ini F.Widayanto melakukan kerja sama dengan sebuah perusahaan Jepang bernama Kobayashi.



Bekarya untuk komersial

        Dimulai dari mimpi dilanjutkan dengan kerja keras dan juga konsisten. Setiap halangan yang dihadapi pun dijadikan sebagai pelajaran untuk membuat kita dapat lebih lebih mawas diri. Dan setelah kita berhasil , janganlah terlena karena kesusahna dan kesenangan datang silih berganti. Dalam setiap usaha pasti ada pesaing, dan hal ini membuat kita menjadi perlu bekerja dan bekerja lagi agar dapat lebih dari para pesaing kita.

Art dan bisnis adalah sesuatu yang side by side, karena itu kita memerlukan orang-orang yang dapat dipercaya untuk dapat menjalankan bisnis kita. Bagaimana pun juga orang-orang yang dimanage untuk menjalankan usaha kita adalah perpanjangan tangan kita.

Visi juga merupakn unsur paling penting dalam membuat suatu bisnis.  Keramik berasal dari tanah liat, dan visi dari seorang F.widayanto dulunya adalah, bagaimana caranya agar tanah liat ini dapat menjadi kebutuhan masyarakat nantinya. Dengan kata lain membuat sesuatu biasa menjadi luar biasa, dengan menambahkan nilai artistik. Kita pun harus memiliki mimpi dalam mimpi kita, agar kita berusaha lebih untuk menggapai mimpi kita.

Jiwa entrepreneur adalah jiwa perjuangan , jiwa tanpa putus asa, dan keberanian dalam mengambil sesuatu yang beda. Sesuatu yang kita punya , itulah yang kita inginkan. Sesuatu yang sederhana itulah yang mengingatkan kita, bekerja dulu, baru menikmati hasilnya. Tapi kembali lagi, jangan mudah terlena dan tetap sederhana.

Dalam usahanya, F.Widyanto mendidik karyawannya secara professional, dengan mengajarkan cara pembuatan dan basic yang sama, melakukan sesuatu sesuai dengan keahlian mereka. Ide yang dimiliki pun selalu berkembang, ide dapat diperoleh dimana saja dan dari siapa saja, maka dari itu selalu hormatilah dan mendengarkan ide dari orang lain. Membuat suatu karya haruslah menyentuh hati , menjual sesuatu yang personal secara personal. Menjual product dengan knowledge untuk membuat orang mendapatkan knowledge.



Bagaimana membuat art menjadi bisnis?

Semakin besar pohon, semakin banyak angin. Maka dari itu kita memerlukan motivasi dalam melakukan hal ini.
- Ikutilah kata hati dan mimpi anda.
- Memuaskan pelanggan kita, tidak hanya dengan product yang dihasilkan, tapi juga dengan suasana yang ada, melayani mereka dengan hati.
- Selalu memulai seusatu dengan gigih.

Prinsip marketing yang dijalankan :
- Membuat orang betah/nyaman “ when you feel better, you shopping more”
- Membuat orang merasa nyaman, agar mereka berbelanja dengan hati.

Mission dari Widayanto : membuat usaha ini terus berjalan, dengan management yang baik.walau beliau sudah tidak ada lagi nantinya, tetapi namanya masi tetap bisa dijual, jadi diperlukan mendidik orang sebagai penerusnya kelak.
Untuk dapat tetap berhasil dalam situasi krisis ini  adalah, terus berkreasi dan terus yakin. Kita harus punya golongan pembeli tersendiri. Bagaimana kita memperkenalkan product kita sendiri  dan membuat orang menjadi loyal dengan brand kita.
Banyak seniman keramik lain yang tidak berhasil dalam menjalankan bisnis keramik ini , karena tidak adanya visi dan perjuangan . Keramik sendiri adalah  hal yang penuh perjuangan sama halnya dengan proses hidup, jika salah kita harus mulai lagi dari awal. Kuncinya adalah Jangan menyerah!

 Sumber : http://indahpermatasari2007110450.blogspot.com

Senin, 16 Agustus 2010

perjalanan seni keramik modern di indonesia

Sepanjang sejarah manusia, benda keramik merupakan hasil penciptaan perajin. Kualitas estetik kerajinan keramik ini terutama dapat dilihat pada Keramik Cina kuno, di mana bentuk, fungsi dan teknik bersatu dalam sebuah karya seni rupa. Pemakaian tanah liat sebagai media seni rupa bukan kekecualian. Di Indonesia, berabad-abad tanah liat disangka sebagai bahan yang dipakai melalui teknik sederhana untuk membuat alat dan barang yang dapat dipakai sehari-hari. Dalam lingkungan seni rupa modern Indonesia, seni rupa keramik tidak dapat berkembang dengan lancar. Bidang ini sangat baru dan oleh karena itu menimbulkan keraguan yang membuat para seniman mengambil langkah yang sangat hati-hati.
       
       Menurut sejarahnya perkembangan seni keramik di Indonesia secara garis besar dapat dibagi menjadi empat periode:

a.    Periode Eksplorasi, sebelum 1960
     Pada masa ini mahasiswa dari Bandung dan Yogyakarta mulai melakukan eksplorasi terhadap kemungkinan-kemungkinan yang ada pada keramik. Pola yang muncul pada masa itu di Bandung adalah hiasan-hiasan dengan pola figurative. Sementara mahasiswa Yogya melakukan eksplorasi terhadap sifat-sifat plastis tanah liat. Oleh karenanya hasil eksplorasinya bersifat  patung dengan mendasarkan pada bentuk-bentuk tradisional.

b.    Periode Akademis, 1963-1970
      Periode ini ditandai dengan pendirian sanggar keramik pada Fakultas Seni Rupa ITB. Tetapi karena keterbatasan sarana, banyak pengetahuan mahasiswa berhenti pada tataran teori. Hasil karya mahasiswa Bandung saat itu menunjukkan bentuk yang kuat dan jelas, tetapi mengesampingkan proses pengglasiran karena keterbatasan sarana. Sedangkan di Yogyakarta, seni keramik didekati dengan cara ilmu patung.

c.    Periode pertumbuhan, 1975-1980
      Pada masa ini seni keramik berkembang. Para seniman mendapat kesempatan untuk menimba ilmu dan pengetahun di luar negeri. Sarana dan prasarana juga relative tersedia. Pada masa ini terlihat perbedaan karya seni para seniman Bandung dan Yogyakarta. Para seniman Bandung menhasilkan bentuk seni dalam bentuk formal dan menekannkan komposisi secara sangat terencana. Sedangkan seniman Yogyakarta menghasilkan karya berdasar inspirasi dari lingkungan dan budaya sekitar untuk menghasilkan seni kontemporer. Yang jelas, pada masa ini, keramik telah diakui sebagai bentuk ekspresi seni.

d.    Periode munculnya seniman-perajin, 1985-sekarang
      Periode ini dimulai dengan adanya sanggar keramik di departemen kerajinan IKJ. Kurikulumnya mempersiapkan para mahasiswa untuk siap bekerja pada bidang kerajinan. Melihat adanya kesempatan ini, para seniman lulusan ITB ikut terjun pada bidang yang sama.

Kriya Keramik Elina Tembus Ekspor

BOSAN dengan bentuk dan motif keramik yang itu-itu saja? Mungkin kriya keramik Elina Farida (46) bisa menjadi pilihan. Kesan dinamis, unik, dan menarik menonjol dari karya-karyanya. Elina memang sengaja membuat keramiknya lain dari yang lain.
Sebagai lulusan jurusan keramik Seni Rupa ITB, Elina tidak mengambil jalan hidup sebagai seniman. Ia justru lebih tertarik mengembangkan kerajinan keramik. Visi misinya satu, menjembatani perajin autodidak dan mereka yang memiliki latar belakang pendidikan formal seni.Pada 1996, Elina merintis usahanya seorang diri dengan berbekal 10 kg tanah liat. Karena peralatan yang terbatas, tak jarang ia menumpang membakar karyanya di tempat seorang teman. Awalnya, ia hanya membuat anting, kalung, dan bros.
Rupanya, karya Elina yang unik dan tidak pasaran menarik perhatian banyak pihak. Perlahan-lahan permintaan dan pesanan untuk membuat benda-benda seperti tempat lilin, hiasan dinding, dan alat lain pun berdatangan.Tingginya permintaan mendorong Elina untuk mulai serius menggarap usahanya pada 2001. Tak perlu waktu lama, hanya enam tahun, produk Elina pun berhasil menembus pasar Malaysia juga Dubai. Saat ini, di Malaysia Elina sudah memiliki pelanggan tetap, Islamic Galery.Diakui Elina, sebelum usahanya berkembang, ia sempat mengalami jatuh bangun. Tidak jarang respons pasar jauh dari harapan dan harus berulang kali mengubah desain sebelum akhirnya menuai respons positif. Namun, ia tidak letih berkreasi.
Sejak dua tahun lalu, ia melengkapi usahanya dengan divisi research and development (RD). Keberadaan RD rupanya menghantarkan pertumbuhan yang pesat terhadap usaha kriya keramiknya."Dalam perkembangannya, ternyata saya merasakan pentingnya RD bagi UKM. Mungkin awalnya terasa berat, apalagi jika memikirkan gaji dan biaya penelitian. Akan tetapi, yang saya rasakan dampaknya sangat besar," kata Elina saat ditemui di galerinya, Jln. LL.R.E. Martadinata No. 181, Bandung, Senin (15/2).Melalui RD, Elina bisa menelaah sejauh mana respons dan selera pasar. Di sisi lain, kreasinya pun jauh lebih beragam dan inovatif karena ditopang banyak ide dari berbagai orang dengan beragam latar belakang pemikiran.
"Kalau berpikir sendiri, ide terbatas," katanya. Padahal, lanjut Elina, kreativitas dan inovasi merupakan nyawa dari usahanya. Kedua hal itu pulalah yang menjadi kekuatan produknya untuk bisa menembus pasar dan menjadi tameng tangguh di tengah gempuran produk murah Cina."Sebenarnya apa yang kita takutkan dengan barang Cina? Produk kita bersaing. Mungkin harga sedikit lebih mahal, tetapi kualitas jauh lebih baik. Ini yang menjadi keunggulan produk lokal," tutur Elina.
Ia melepas produknya ke pasar lokal dengan harga mulai dari Rp 5.000 untuk aksesori dan Rp 50.000-Rp 500.000 untuk produk interior. Tableware dan aksesori interior menjadi produk yang paling digemari saat ini."Pasar lokal lebih mudah ditembus, respons bagus, dan dari segi harga sebenarnya lebih baik. Tipikal orang Indonesia kalau sudah suka, berapapun harganya pasti akan dibeli. Beda dengan pasar luar negeri. Mereka selalu meminta harga yang lebih murah dari pasaran di Indonesia," tuturnya.
Hal itu, lanjut Elina, terjadi karena buruknya image produk Indonesia di pasar global. Setiap pameran di luar negeri, tidak jarang pembeli menawar dengan harga murah. "Ini jadi PR pemerintah untuk mengangkat citra produk Indonesia di pasar global," kata Elina.Namun, bukan berarti tidak ada solusi. Untuk menyiasati agar harga tidak terlalu jatuh, Elina menjalin kerja sama dengan galeri seni di negara tujuan. Walaupun pesannya terbatas, ia bisa menjaga hargajual produk. (Rika Rachmawati/"PRrr)"